Cute Black Pencil

Jumat, 30 November 2012

KUMPULAN PUISI APRESIASI SASTRA WIDIATMIKA


Ibuku, Cintaku


Karya : Merry Santika

Ketika aku terlahir
Di dunia ini
Ketika ku membuka mata
Tuk pertama kalinya

Kulihat senyum kecilnya
Kurasakan hangat peluknya
Kudengarkan nada-nada
Yang terurai darinya

Ketika aku menangis
Ketika aku menjerit
Ketika aku tersakiti
Kau selalu menemaniku
Menghapus air mata
Menguapkan duka lara
Melukis kasih-sayang
Untuk diriku

Ibuku yang kusayang
Ibuku yang kucinta
Seluruh jiwa dan raga
Rela kau berikan untukku
Walaupun harus mengarungi samudra
Meskipun harus menelusuri dunia
Apapun itu, kau lakukan untukku
Hanya untukku

Terimakasih ibu
Doa aku selalu menyertaimu


Bebas
Karya : Balqish Setyawijaya

Bebas
Aku ingin bebas
Bebas untuk terbang tinggi
Menggapai bintang di langit

Bebas
Bebas dari semua ini
Aku ingin bebas memilih cintaku
Bebas mewujudkan mimpiku

Ku tak ingin
Halangan menghalangiku
Tangisan menjadi rintanganku
Galau menghalangiku

Bebas
Aku ingin bebas
Bebas mengukir prestasi
Bebas memilih jalan hidup
Aku ingin bebas
Bebas menerawangi angkasa
Bebas menaklukkan daratan
Bebas mengarungi samudra

Aku ingin bebas



Sahabat Sejati
Karya : Ega Rupani

Kau
Ketika aku sendiri
kau yang menemani
Ketika aku ada masalah
Kau datang dan membantuku
Kau selalu ada untukku
Senang dan susah
kau selalu bersamaku
Dari kecil dan dewasa
Kita selalu bersama-sama
Kaulah sahabat sejatiku
Kau tempat curhatku
Kau menerimaku
dengan segala kekurangan
yang kumiliki
Terimakasih sahabat


Ibuku
Karya : Sri Shanty

Terimakasih
Kau adalah segalanya untukku
Tanpamu aku tak berarti

Terimakasih ibu
Kau telah berani mengorbankan
Jiwamu untukku
Ibu, jangan tinggalkan aku

Sebelum aku membalas jasamu
Kau sungguh wanita yang sangat mulia
Aku bangga memiliki ibu seperti engkau




Cerah
Karya: Ayu Maharani
Hari-hariku
Terisi dengan sinarmu
yang terang

Engkau buat aku bahagia
Menyinari diriku
Dan duniaku
Tanpa sinarmu
Dunia ini gelap
Dan suram

Dunia ini tanpamu
Sangat hampa



Bunda
Karya : Chinta Purnama

Bunda
Dari kecil
Kau membimbingku
Mengajariku makan, minum, dan bicara
Setiap ku menangis kau selalu sabar

Bunda...
Aku ingin membuatmu bangga
Aku ingin membuatmu tersenyum
Aku ingin membuatmu bahagia
Hanya senyummu
Yang membuatku bahagia
Terimakasih bunda

  
Diriku
Karya : Hanindya Putri

Aku bukanlah orang
yang sempurna
Aku manusia lemah
Yang hanya memikirkan
dirinya sendiri

Rasa cinta, benci, selalu ada
Mungkin di mata orang
aku selalu aneh

Tetapi dengan semangatku
Aku dapat menghilangkan
rasa itu...

  
Pelangi
Karya : Sukmawati

Warnamu sungguh menawan
Bagaikan senyum bayi yang menggoda
Mijikuhibiniu itulah warnamu
Bila ku bisa memegangmu
Akan ku petik salah satu warnamu
Akan ku tunjukkan
pada orang yang aku sayangi
agar mereka tahu betapa indahnya dirimu


Pahlawan
Karya : Felicia Ancilla

Wahai pahlawan
Engkau para pejuang
Yang membela
Bersatu, demi kemerdekaan Indonesia
Walau luka peluru menembus dadamu
Engkau terus berjuang tanpa lelah

Wahai pahlawan
Jasamu selalu kami hargai
Darah yang menetes
Dan keringat mengucur
Tidak membuatmu kalah
Semangatmu, kekuatanmu, telah bersatu
Menjadi Indonesia yang merdeka
  

Sahabatku
Karya : Reyna Tasya

Sahabat
yang membantuku
Di kala aku kesulitan
Yang membantuku
di kala aku sedih
Yang membantuku
Di kala aku kesakitan

Sahabat
yang mengulurkan tangannya
Yang meminjamkan punggungnya
Untukku

Sahabat
Bagaikan bintang yang menerangi malamku
Bagaikan pelangi yang mewarnai hari-hariku
Wahai sahabat...


 Pedesaan
Karya : Putri Bella Ayu Virgani

Gunung tinggi menjulang
Sawah hijau meluas
Pepohonan rindang
Sungai mengalir deras
Dari hulu ke tepian
Burung-burung berkicau riang
Langit biru membentang alam
Begitu menakjubkan alam pedesaan

Terimakasih Tuhan
Engkau telah menciptakan alam pedesaan
Yang indah ini

  
Buku
Karya : Ayu Oktavia

Buku
Buku adalah sumber ilmu
Semua orang memerlukanmu
Kau bagaikan penerang hidupku
Kau bagaikan matahari
Yang menyinari bumi ini

Buku
Kau adalah jendela ilmu
Kau bagaikan makananku
Setiap waktu
Kaulah jembatan ilmuku
Tanpa buku
Aku tak berguna di dunia ini

  
Guruku
Karya : Wika Gunawan

Kau adalah pahlawan
Jasamu diperlukan
Demi mencerdaskan bangasa

Oh guruku
Aku bangga denganmu
Terimakasih untukmu
Tanpamu
Bagaimana negara ini?

Itulah kau
Pahlawan tanpa tanda jasa


Sahabat
Karya : Ellysa Widiastari

Sahabat
Di saat susah maupun senang
Di saat duka maupun gembira
Kau selalu ada bersamaku

Tak peduli miskin ataupun kaya
Tak peduli cantik ataupun jelek
Sahabat sejati tak pernah peduli
Pada semua itu

Sahabat...
Kau selalu menemaniku
Dengan senyummu
Dengan tawamu
Kau juga selalu membuatku terhibur
Itulah sahabat sejati
  



Guruku
Karya : Riska Purwanto

Kau adalah pahlawan
tanpa tanda jasa
jasamu sangat dibutuhkan
karena kau yang mencerdaskan bangsa

terimakasihku
kuucapkan padamu
yang tulus
ilmu yang berguna kan ku ingat selalu
terimakasihku untukmu...

  
Pohon
Karya : Andy Vetta

Pohon
Kau begitu indah
Saat kemarau
Kau mengeluarkan bunga
Lalu bunga itu menjadi buah

Saat hujan kaupun bisa mencegah banjir
Sangatlah berguna
Jika tidak ada kau
Panaslah bumi kita

Jika ada kau
Bumi kita menjadi sejuk
Dan tak ada polusi


Oh Greyson
Karya: Irene Anastasia

Greyson, kau idola anak perempuan
Di Indonesia hingga mancanegara
Banyak hal yang bisa dicontoh
Seperti bakat-bakat yang kau miliki

Bernyanyi, bermusik, berolahraga
Sangat banyak yang bisa dicontoh
Bagitu juga suaramu
Suara yang begitu mendunia

Oh Greyson
Tidak ada salahnya
Gadis-gadis mengidolakanmu
  

Guruku
Karya : Gilang Permana Putra

Kau membuat kami pintar
Kau membuat kami berprestasi
Kau mengajari kami tentang semua pelajaran
Engkau guru tanpa tanda jasa

Guruku, kau pantang menyerah mengajari kami
Kau berusaha sekuat tenaga untuk mengajari kami
Kau memang guru yang terbaik
Terimakasih guruku

  
Bintang
Karya: Brillianty

Bintang
Kau menyinari malamku
Kau membuat setiap malamku
Menjadi terang

Alangkah indah sinarmu
Menyinari bumi ini
Menjadikan bumi ini
Selalu terang
Di setiap malamnya
Oh bintang....


Ibu
Karya: Rahayu

Engkau adalah pahlawan
Engkau telah mendidikku
Hingga saat ini
Aku sangat berterimakasih

Wahai ibu
Jangan sampai kau tinggalkanku
Karena aku
Sangat perlu didikanmu

Sebagai anakmu
Jika aku besar
Aku akan melindungimu
Dengan riang hati

  
Sahabat
Karya : Nur Afifah

Sahabat
Engkau selalu ada
Dalam suka dan duka
Berbagi bersama
Sepanjang usia

Sahabat
Kau selalu ada untukku
Sepanjang waktu
Tak kan kulupakan kebaikanmu
Oh sahabatku
Kau selalu ada di hatiku



Matahariku
Karya : Adella

Matahariku
Kau lah yang menyinariku
Di setiap aku merenung
Kau membuatku hangat nan sejuk

Oh matahariku...
Sinarmu sangat memesona
Membuat bumi ini indah dan berwarna
Layaknya pelangi di pagi hari


Ibu
Karya : Yogi aditya

Ibu engkau adalah pahlawan bagiku
Engkau yang merawatku
Hingga seperti ini
Engkau mencari nafkah untukku

Ibu
Jasamu tak kan pernah kulupakan
Entah bagaimana aku membalasnya
Engkau telah mengandungku
Hingga aku lahir
Engkau telah memberi aku nafkah
Engkau pahlawan sejati bagiku
Dan engkau pelita di hidupku
Engkau segala-galanya bagiku



















Rabu, 28 November 2012

Pagi


Pagi ini
Matahari terbangun
Terlalu pagi
Sepagi di lain hari
Sehingga memaksaku
Bangun pagi-pagi

Pagi ini...
Selamat pagi
Tak biasanya
Suara itu terdengar
Memecah keheningan pagi ini

Suasana pagi
Yang tak ingin kulewati
Kulahap roti krim strowberi
Dengan sedikit irisan pagi
Yang terasa terlalu pagi
Ya...pagi!

Ah....


Lunglai, itu yang kurasa
Tatkala Engkau menepuk punggungku
Seraya berkata,
“Sudahlah, jangan memaksakan diri
Lanjutkan esok hari lagi”

Aku berontak
Masih banyak sumbatan
Dalam rongga kepalaku
Yang belum aku pecah
Menggumpal, mengeras
Memenuhi sumsum tulang
Membuatku ngilu

Kini aku tak berdaya
Menyesal tlah mencampakkan
Bisikan lirih kapan hari
Hanya bisa terbaring lemah
Hingga mentari
Bisa jelas kulihat lagi



Selasa, 27 November 2012

Kumiliki Matamu

Di antara sekian banyak mata
kupilih matamu
mata yang menyiratkan
berjuta warna
di balik gurat lelah
yang kau simpan
di setiap sudut matamu

Mata ini tlah kumiliki
tapi kulihat ada setitik air
menetes, tertahan
mengeruh dan semakin keruh
hingga bola matamu samar
menyamarkan gelisah
yang tak ingin kau bagi
kepadaku...

Tarian Malam

Bintang bertaburan
berselimutkan aurora keemasan
di sudut lain
rembulan setia menemani
bagai gembala
sedang menjaga domba-dombanya
mencari rerumputan
di padang yang luas

malam itu
aku duduk terpaku
pada seonggok kayu tua
yang tlah akrab
bersama dinginnya malam

di sana aku mencari bayangmu
di sela-sela bintang-gemintang
di setiap ekor meteor
yang beberapa kali membuyarkan anganku
tapi, bayangmu tak bisa kulihat
tampak hanya wajah rembulan
tersenyum mesra kepada sang malam

Aku beranjak saja dari tempat itu
kutinggalkan tarian malam
tanpa membawa pulang
potongan senyuman rembulan
karna besok, ku kan kembali
menari bersama malam lain
yang menyembunyikan wajah kekasihku

Senin, 26 November 2012

Jika

Jika sekuntum mawar
bisa mewakili perasaanmu
Petiklah segera dan ikat dengan ketulusan
Rangkailah dengan kata-kata indah
Sematkan di antara tangkai-tangkai segar
Yang kan menyampaikan isi hatimu
Tanpa kamu harus berbujuk rayu

Jika sepotong senyum
Tersungging di bibir manisnya
Kau tlah dapatkan hatinya
Simpanlah  sorot matanya
Yang menelisik sudut-sudut wajahmu
Dengan pipi rona dan tersipu
Seolah berkata,
“Usah kau merayu, cumbulah hatiku”

Jika mawarmu dicampakkan
Usah kau bersedih
Simpanlah tuk beberapa hari
Karena segarnya, masih bisa kau nikmati
Sampai tiba waktunya
Seseorang kan menawarnya
Dengan sepotong hatinya

Mendulang Cinta

Zaman sekarang banyak orang berkata “cinta”
Cinta yang sebatas kata-kata belaka.
Tahukah kamu betapa besar makna
Yang tersimpan di balik kata itu?
Beribu kata, tak kan mampu mendefinisikannya
Berjuta puisi tak kan mampu mewakilinya
Sebatas kita rasakan, tak dapat kita gambarkan

Cinta,
Cukup mudah mengawalinya
Sangat sulit mempertahankannya
Amat sakit jika kehilangannya
Akan hampa tanpanya
Bukankah itu yang kita rasakan?

Tapi, banyak yang menyia-nyiakan cinta
Tatkala cukup mudah baginya
Mendapatkan cinta
dan…
tanpa ia sadari
ia telah terjebak dalam perangkap cinta
karena cinta pisau bermata dua
yang kadang membuat kita bersuka
dan tak jarang menghadirkan duka

Minggu, 25 November 2012

Ku Rela

Tak apalah
dingin menerpa tubuhku
tak apalah 
dingin menusuk tulangku
ku rela...
agar dapat kurasakan
hangat dekapanmu

tatkala mentari 
mulai pulang ke peraduan
ku ingin cepat terlelap
ku ingin dibuai mimpi indah
berbingkai bayang wajahmu
yang tlah lama ku rindu

Tapi, ketika ku dapati
pagi tlah meninggi
mimpi-mimpi sontak pergi
dan, ku rela...
kan ku kejar
mimpi-mimpi itu
di kemudian hari