Cute Black Pencil

Senin, 09 Desember 2013

Terdampar

                                 
Aku berusaha memeras keringatku yang hampir mengering pada sepotong baju kaosku yang mulai kehilangan warna putihnya dan kini telah berubah warna menjadi coklat kehitaman. Letihku semakin menjadi-jadi karena perutku yang keroncongan belum terisi apa-apa kecuali air laut yang terpaksa kutelan karena rasa haus yang begitu liar di kerongkonganku.
“Ayah, Ibu, di mana kalian sekarang? Aku rindu berada di tengah-tengah kalian, menatap perapian yang hangat ditemani secangkir teh jahe buatan ibu”
Air mataku tak terasa menetes mengaliri pipiku. Setelah kejadian itu, aku kini terdampar di pinggir pantai yang tidak berpenghuni. Kapal dagang yang dikendarai ayahku terhempas oleh gelombang ombak yang sangat ganas. Ibuku yang ikut serta dalam kapal itu, kini entah hilang ke mana. Kami hendak berangkat ke Sumatra dari pelabuhan Buleleng untuk menjual anggur yang kami panen beberapa hari yang lalu. Kondisi cuaca yang tidak mendukung, ternyata menjadi petaka bagi kami. Kapal kami yang sederhana terhempas gelombang dan hancur. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan berusaha memegang bongkahan kapal dan aku pun terdampar di pantai ini.
Karena hari semakin malam, aku pun berusaha mencari tempat berlindung dari dinginnya malam. Aku berusaha masuk ke hutan di pinggiran pantai untuk mencari pohon yang cukup besar dan aku akan berlindung di bawahnya. Lelah berjalan, akhirnya aku tiba di bawah sebuah pohon besar. Aku membersihkan rerumputan liar di bawahnya dan mengambil beberapa helai daun kering untuk alas tidur. Aku pun segera merebahkan diri untuk mengusir rasa letih yang telah terakumulasi.
“Hhhhh...aku akan tidur saja untuk menghemat energiku, aku akan berusaha mencari makanan besok pagi saja”  aku berusaha memejamkan mataku. Baru beberapa menit, aku sudah terlelap.
Tik...tik...tik...tetesan air tiba-tiba membasahi pipiku. Hujan! Aku pun terbelalak kaget sekaligus senang. Aku segera membuka mulutku lebar-lebar agar air hujan itu masuk kerongkonganku untuk mengobati rasa dahaga yang sudah mencekat sejak tadi pagi. Tapi hujan pun semakin deras, dan tempatku tidur sekarang tak memungkinkan lagi ditiduri karena semakin becek saja.
Aku harus segera mencari tempat berteduh yang tak jauh dari sini, gumamku dalam hati. Aku berusaha berjalan di antara hujan. Tanganku meraba semak-semak dan kakiku melangkah perlahan agar tidak terjerembab ke dalam jurang karena mataku tak bisa melihat apa-apa. Hanya sinar rembulan yang terpantul lewat daun-daun basah yang menjadi sumber cahayaku satu-satunya.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya aku lihat di balik semak-semak. Aku merasa ketakutan, tapi pikiran itu aku buang jauh-jauh. Aku berpikir lagi, jangan-jangan itu adalah orang-orang dari pedesaan terdekat, siapa tahu aku bisa meminta pertolongan kepadanya. Aku berlari kecil berusaha mendekati sumber cahaya itu sambil berteriak-teriak meminta pertolongan.
“Tolong...tolong...siapapun itu, tolong saya, tolong...” Suaraku semakin melemah dan pandanganku mulai kabur. Brakkk...tubuhku tiba-tiba lunglai dan tersungkur ke tanahh. Bersambung.....

Ku Terpuruk



Dalam keterpurukan ku berusaha menemukan setetes keheningan yang akan menghantarkanku ke dalam lembah ketenangan yang tlah hilang selama ini. ku  terdiam, termenung merengkuh makna dalam setiap jengkal nafas lembab ini yang tak pernah mengering karena beceknya suasana ibu kota. Jujur, jika ada sekuntum nasihat terbenam dalam benakku kali ini, aku akan mengumbarnya pada hamparan padang rumput yang menemani sepiku malam ini.

Seonggok resah menggelayut dalam rongga kepala, menenggelamkan asa yang sudah kuurai secara perlahan.

Waktu tak kan pernah kembali...

Tidak banyak waktu yang tersisa, manfaatkan itu untuk berbuat hal yang lebih baik. Jangan menolak saran dan kritik yang muncul, jadikan sebagai motivasi dan introspeksi diri untuk menuntunmu ke gerbang cahaya...