Aku berusaha
memeras keringatku yang hampir mengering pada sepotong baju kaosku yang mulai
kehilangan warna putihnya dan kini telah berubah warna menjadi coklat
kehitaman. Letihku semakin menjadi-jadi karena perutku yang keroncongan belum
terisi apa-apa kecuali air laut yang terpaksa kutelan karena rasa haus yang
begitu liar di kerongkonganku.
“Ayah, Ibu, di
mana kalian sekarang? Aku rindu berada di tengah-tengah kalian, menatap
perapian yang hangat ditemani secangkir teh jahe buatan ibu”
Air mataku tak
terasa menetes mengaliri pipiku. Setelah kejadian itu, aku kini terdampar di
pinggir pantai yang tidak berpenghuni. Kapal dagang yang dikendarai ayahku
terhempas oleh gelombang ombak yang sangat ganas. Ibuku yang ikut serta dalam
kapal itu, kini entah hilang ke mana. Kami hendak berangkat ke Sumatra dari
pelabuhan Buleleng untuk menjual anggur yang kami panen beberapa hari yang
lalu. Kondisi cuaca yang tidak mendukung, ternyata menjadi petaka bagi kami. Kapal
kami yang sederhana terhempas gelombang dan hancur. Aku berusaha menyelamatkan
diri dengan berusaha memegang bongkahan kapal dan aku pun terdampar di pantai
ini.
Karena hari
semakin malam, aku pun berusaha mencari tempat berlindung dari dinginnya malam.
Aku berusaha masuk ke hutan di pinggiran pantai untuk mencari pohon yang cukup
besar dan aku akan berlindung di bawahnya. Lelah berjalan, akhirnya aku tiba di
bawah sebuah pohon besar. Aku membersihkan rerumputan liar di bawahnya dan
mengambil beberapa helai daun kering untuk alas tidur. Aku pun segera
merebahkan diri untuk mengusir rasa letih yang telah terakumulasi.
“Hhhhh...aku
akan tidur saja untuk menghemat energiku, aku akan berusaha mencari makanan
besok pagi saja” aku berusaha memejamkan
mataku. Baru beberapa menit, aku sudah terlelap.
Tik...tik...tik...tetesan
air tiba-tiba membasahi pipiku. Hujan! Aku pun terbelalak kaget sekaligus
senang. Aku segera membuka mulutku lebar-lebar agar air hujan itu masuk
kerongkonganku untuk mengobati rasa dahaga yang sudah mencekat sejak tadi pagi.
Tapi hujan pun semakin deras, dan tempatku tidur sekarang tak memungkinkan lagi
ditiduri karena semakin becek saja.
Aku harus
segera mencari tempat berteduh yang tak jauh dari sini, gumamku dalam hati. Aku
berusaha berjalan di antara hujan. Tanganku meraba semak-semak dan kakiku
melangkah perlahan agar tidak terjerembab ke dalam jurang karena mataku tak
bisa melihat apa-apa. Hanya sinar rembulan yang terpantul lewat daun-daun basah
yang menjadi sumber cahayaku satu-satunya.
Tiba-tiba ada
seberkas cahaya aku lihat di balik semak-semak. Aku merasa ketakutan, tapi
pikiran itu aku buang jauh-jauh. Aku berpikir lagi, jangan-jangan itu adalah
orang-orang dari pedesaan terdekat, siapa tahu aku bisa meminta pertolongan
kepadanya. Aku berlari kecil berusaha mendekati sumber cahaya itu sambil
berteriak-teriak meminta pertolongan.
“Tolong...tolong...siapapun
itu, tolong saya, tolong...” Suaraku semakin melemah dan pandanganku mulai
kabur. Brakkk...tubuhku tiba-tiba lunglai dan tersungkur ke tanahh. Bersambung.....

.jpg)