Cute Black Pencil

Kamis, 04 Desember 2014

Format Laporan Outbound

http://downloads.ziddu.com/download/24238287/Format-Laporan.docx.html

Selasa, 29 April 2014

Terimakasihku Untukmu



 Karya: Wisnu Saputra
Berpuluh tahun lalu
Indonesiaku diselimuti awan kelam
Bernama penjajahan
Rakyat sengsara
Pertiwi berduka

Tapi aku bangga
Beberapa orang rela
Mengorbankan jiwa dan raga
Demi merebut Indonesia tercinta
Indonesia merdeka

Engkaulah pahlawan bangsa
Berjuang tanpa pamrih
Tak menghiraukan rasa pedih
Sampai titik darah penghabisan

Terimakasih
Karena perjuanganmu
Kini aku bisa menghirup
Udara kebebasan
Dan rasa kemerdekaan
Untuk Indonesia
Yang lebih jaya

Pejuang Kaum Wanita



Karya: Wisnu Saputra
Dulu
Wanita dianggap nomor dua
Tak lebih sebagai pelayan
Yang hanya tinggal di rumah
Menyelesaikan pekerjaan kasar
Tak berhak mengenyam pendidikan

Berbeda dengan kaum pria
Mereka diagungkan
Selalu dinomorsatukan

Namun, sosokmu
Berhasil melepas belenggu
Yang mengekang hak kaummu
Yang mengikat kebebasanmu

Jasa-jasa dan pemikiranmu
Mengubah cara pandang bangsa ini
Wanita tak lagi disepelekan
Kini, mereka bisa berdiri sejajar
Dengan kaum pria
Bersaing dalam segala hal


Perjuangan tiada Akhir



Karya: Wisnu Saputra
Sebilah bambu runcing
Kau panggul di pundakmu
Bermodalkan tekad yang kuat
Untuk Indonesia merdeka
Kau lawan musuh-musuhmu
Yang bersenjatakan bedil

Satu per satu
Mereka bertumbangan
Bermandikan darah
Demi memperjuangkan
Hak-hak kita
Yang direbut para penjajah

Aku harap
Perjuangannya tak kan terhenti
Di masa kemerdekaan ini
Terus lanjutkan
Terus kobarkan
Semangat yang berapi-api
Tanpa rasa takut
Tanpa rasa pamrih


Rabu, 16 April 2014

Cahaya Bintang


Karya: Pt. Jodi Palguna

Malam telah tiba
Gelap telah Tiba
Matahari tak bersinar lagi
Giliran bulan yang menyinari bumi
namun kerlap-kerlip kecil menggantung di  langit
cahaya cahaya mungil menyinari langit
betapa indahnya engkau
di atas langit
aku bermimpi
hidupku sepertimu
dipandang indah oleh orang lain
bercahaya terang dikenal teman

Sabtu, 08 Maret 2014

Terdampar Part II (Tamat)

                Ketika aku membuka mata. Seberkas sinar membuatku silau. Tubuhku masih terasa lemas. Belum sepenuhnya mataku terbuka, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sekelompok orang yang berpakaian ala India, mukanya coreng-moreng dan tampak raut penasaran di wajah mereka. 
             “Si...si...siapa kalian?” Sontak aku kaget dan berusaha menjauh dari mereka. Tetapi mereka terus berusaha mendekat. Aku yang sudah berada di pojok, tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali membenamkan kepalaku di tengah kaki yang sudah kutekuk sebisa mungkin. 
             Tiba-tiba sentuhan tangan-tangan yang terasa sangat kasar mengusap-usap tubuhku. Aku berusaha berontak, tetapi tangan-tangan itu semakin liar berusaha mengenali tubuhku. Mungkin mereka merasa heran melihat seorang anak laki-laki berkulit bersih sepertiku. Di tengah ketakutanku yang semakin menjadi-jadi, aku merasakan sentuhan yang tak asing bagiku, lembut dan terasa sangat hangat. Kuberanikan mengintip dari balik celah-celah tangan yang menutupi kepalaku.
           “I...i..ibu...kaukah itu?” ujarku lirih. 
         Wajah itu semakin jelas dan sosok itu langsung mendekapku erat-erat. Pertemuan itu seakan-akan mimpi yang menjadi kenyataan bagiku. Kusambut dekapan hangat ibu dengan tangisan yang berderai seperti mencurahkan kepedihan yang amat dalam. Perlahan-lahan tangisku terhenti, dan satu sosok yang tak asing juga bagiku, mendekat. Kurasa itu adalah ayah, tapi mengapa sangat kurus, kulitnya hitam, rambutnya panjang terurai tak terawat. Ahh... itu bukan ayah, pikirku. Tapi sosok itu kemudian berlari kecil menghampiriku sembari berkata, “Domba kecilku, ke mana saja kau selama ini?” Sosok itu memanggil panggilan yang biasa diucapkan oleh ayahku ketika memanggilku. 
           Aku kini yakin, itu adalah ayahku. Segera setelah itu beberapa orang membawakan buah-buahan segar untukku. Ibuku memberiku sebuah kelapa muda yang sangat segar, sehingga perlahan-lahan rasa lemas menguap dari tubuhku. Aku masih bertanya-tanya di mana keberadaanku sekarang dan mengapa ayah berubah drastis seperti itu. Ibuku menjelaskan bahwa aku sekarang berada di sebuah daerah pedalaman tempat bermukimnya suku Antis. Ayah dan ibu diselamatkan oleh suku tersebut ketika terdampar tak berdaya di tepi pantai. Menurut penuturan ibu, ayahku sangat berjasa dalam keselamatan ibuku. 
        “Ayahmu, berpegangan pada bangkai kapal yang terombang-ambing sambil menggenggam tangan ibu erat-erat. Saat itu keadaan ibu lunglai tak berdaya. Matahari terus membakar kulit ayahmu selama berhari-hari sampai akhirnya kami berdua tak ingat apa-apa lagi.” 
           Hari pun berganti malam. Kami pun beristirahat di dekat perapian sekadar menghangatkan tubuh yang sudah sangat letih. Keesokan harinya kami dibangunkan oleh kepala suku. Mereka telah menyiapkan pakaian dari kulit kayu yang sangat unik. Selain itu, sebuah perahu mungil terbuat dari batang kayu juga telah disiapkan agar kami bisa kembali pulang. Kami merasa sangat terharu dan tak terasa air mata telah membasahi pipi kami. Kami pun diantar menuju ke bibir pantai. Beberapa orang suku Antis tampak membawakan beberapa tandan pisang untuk bekal kami di perjalanan. Layar dari anyaman daun pandan pun dibentangkan, perahu perlahan-lahan meninggalkan pulau kecil itu, orang-orang suku Antis melambai-lambai memberi salam perpisahan kepada kami.

Senin, 09 Desember 2013

Terdampar

                                 
Aku berusaha memeras keringatku yang hampir mengering pada sepotong baju kaosku yang mulai kehilangan warna putihnya dan kini telah berubah warna menjadi coklat kehitaman. Letihku semakin menjadi-jadi karena perutku yang keroncongan belum terisi apa-apa kecuali air laut yang terpaksa kutelan karena rasa haus yang begitu liar di kerongkonganku.
“Ayah, Ibu, di mana kalian sekarang? Aku rindu berada di tengah-tengah kalian, menatap perapian yang hangat ditemani secangkir teh jahe buatan ibu”
Air mataku tak terasa menetes mengaliri pipiku. Setelah kejadian itu, aku kini terdampar di pinggir pantai yang tidak berpenghuni. Kapal dagang yang dikendarai ayahku terhempas oleh gelombang ombak yang sangat ganas. Ibuku yang ikut serta dalam kapal itu, kini entah hilang ke mana. Kami hendak berangkat ke Sumatra dari pelabuhan Buleleng untuk menjual anggur yang kami panen beberapa hari yang lalu. Kondisi cuaca yang tidak mendukung, ternyata menjadi petaka bagi kami. Kapal kami yang sederhana terhempas gelombang dan hancur. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan berusaha memegang bongkahan kapal dan aku pun terdampar di pantai ini.
Karena hari semakin malam, aku pun berusaha mencari tempat berlindung dari dinginnya malam. Aku berusaha masuk ke hutan di pinggiran pantai untuk mencari pohon yang cukup besar dan aku akan berlindung di bawahnya. Lelah berjalan, akhirnya aku tiba di bawah sebuah pohon besar. Aku membersihkan rerumputan liar di bawahnya dan mengambil beberapa helai daun kering untuk alas tidur. Aku pun segera merebahkan diri untuk mengusir rasa letih yang telah terakumulasi.
“Hhhhh...aku akan tidur saja untuk menghemat energiku, aku akan berusaha mencari makanan besok pagi saja”  aku berusaha memejamkan mataku. Baru beberapa menit, aku sudah terlelap.
Tik...tik...tik...tetesan air tiba-tiba membasahi pipiku. Hujan! Aku pun terbelalak kaget sekaligus senang. Aku segera membuka mulutku lebar-lebar agar air hujan itu masuk kerongkonganku untuk mengobati rasa dahaga yang sudah mencekat sejak tadi pagi. Tapi hujan pun semakin deras, dan tempatku tidur sekarang tak memungkinkan lagi ditiduri karena semakin becek saja.
Aku harus segera mencari tempat berteduh yang tak jauh dari sini, gumamku dalam hati. Aku berusaha berjalan di antara hujan. Tanganku meraba semak-semak dan kakiku melangkah perlahan agar tidak terjerembab ke dalam jurang karena mataku tak bisa melihat apa-apa. Hanya sinar rembulan yang terpantul lewat daun-daun basah yang menjadi sumber cahayaku satu-satunya.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya aku lihat di balik semak-semak. Aku merasa ketakutan, tapi pikiran itu aku buang jauh-jauh. Aku berpikir lagi, jangan-jangan itu adalah orang-orang dari pedesaan terdekat, siapa tahu aku bisa meminta pertolongan kepadanya. Aku berlari kecil berusaha mendekati sumber cahaya itu sambil berteriak-teriak meminta pertolongan.
“Tolong...tolong...siapapun itu, tolong saya, tolong...” Suaraku semakin melemah dan pandanganku mulai kabur. Brakkk...tubuhku tiba-tiba lunglai dan tersungkur ke tanahh. Bersambung.....