Ketika aku membuka mata. Seberkas sinar membuatku silau. Tubuhku masih terasa lemas. Belum sepenuhnya mataku terbuka, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sekelompok orang yang berpakaian ala India, mukanya coreng-moreng dan tampak raut penasaran di wajah mereka.
“Si...si...siapa kalian?”
Sontak aku kaget dan berusaha menjauh dari mereka. Tetapi mereka terus berusaha mendekat. Aku yang sudah berada di pojok, tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali membenamkan kepalaku di tengah kaki yang sudah kutekuk sebisa mungkin.
Tiba-tiba sentuhan tangan-tangan yang terasa sangat kasar mengusap-usap tubuhku. Aku berusaha berontak, tetapi tangan-tangan itu semakin liar berusaha mengenali tubuhku. Mungkin mereka merasa heran melihat seorang anak laki-laki berkulit bersih sepertiku. Di tengah ketakutanku yang semakin menjadi-jadi, aku merasakan sentuhan yang tak asing bagiku, lembut dan terasa sangat hangat. Kuberanikan mengintip dari balik celah-celah tangan yang menutupi kepalaku.
“I...i..ibu...kaukah itu?” ujarku lirih.
Wajah itu semakin jelas dan sosok itu langsung mendekapku erat-erat. Pertemuan itu seakan-akan mimpi yang menjadi kenyataan bagiku. Kusambut dekapan hangat ibu dengan tangisan yang berderai seperti mencurahkan kepedihan yang amat dalam. Perlahan-lahan tangisku terhenti, dan satu sosok yang tak asing juga bagiku, mendekat. Kurasa itu adalah ayah, tapi mengapa sangat kurus, kulitnya hitam, rambutnya panjang terurai tak terawat. Ahh... itu bukan ayah, pikirku. Tapi sosok itu kemudian berlari kecil menghampiriku sembari berkata,
“Domba kecilku, ke mana saja kau selama ini?” Sosok itu memanggil panggilan yang biasa diucapkan oleh ayahku ketika memanggilku.
Aku kini yakin, itu adalah ayahku.
Segera setelah itu beberapa orang membawakan buah-buahan segar untukku. Ibuku memberiku sebuah kelapa muda yang sangat segar, sehingga perlahan-lahan rasa lemas menguap dari tubuhku. Aku masih bertanya-tanya di mana keberadaanku sekarang dan mengapa ayah berubah drastis seperti itu. Ibuku menjelaskan bahwa aku sekarang berada di sebuah daerah pedalaman tempat bermukimnya suku Antis. Ayah dan ibu diselamatkan oleh suku tersebut ketika terdampar tak berdaya di tepi pantai. Menurut penuturan ibu, ayahku sangat berjasa dalam keselamatan ibuku.
“Ayahmu, berpegangan pada bangkai kapal yang terombang-ambing sambil menggenggam tangan ibu erat-erat. Saat itu keadaan ibu lunglai tak berdaya. Matahari terus membakar kulit ayahmu selama berhari-hari sampai akhirnya kami berdua tak ingat apa-apa lagi.”
Hari pun berganti malam. Kami pun beristirahat di dekat perapian sekadar menghangatkan tubuh yang sudah sangat letih.
Keesokan harinya kami dibangunkan oleh kepala suku. Mereka telah menyiapkan pakaian dari kulit kayu yang sangat unik. Selain itu, sebuah perahu mungil terbuat dari batang kayu juga telah disiapkan agar kami bisa kembali pulang. Kami merasa sangat terharu dan tak terasa air mata telah membasahi pipi kami. Kami pun diantar menuju ke bibir pantai. Beberapa orang suku Antis tampak membawakan beberapa tandan pisang untuk bekal kami di perjalanan. Layar dari anyaman daun pandan pun dibentangkan, perahu perlahan-lahan meninggalkan pulau kecil itu, orang-orang suku Antis melambai-lambai memberi salam perpisahan kepada kami.
0 komentar:
Posting Komentar