Karya : Wisnu Saputra
Fiuuhhhh, ulangan Kimia hari ini sungguh membuat kepala ini terasa pecah.
Ditambah gurunya yang super galak, semakin lengkaplah penderitaanku. Tanpa
kusadari aku hampir terjatuh di tangga sekolah karena hampir semua tenaga
terkuras habis memikirkan rumus-rumus molekul yang sangat tak kumengerti.
![]() |
“Ada apa Tante? Kok tampangmu gitu amat?” tanyaku pada Laras yang biasa
aku panggil Tante karena cerewetnya minta ampun.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Laras menatapku tajam dan penuh
tanda-tanya. Dia memelotiku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Heh, kamu tuh gila ya. Ga punya kerjaan amat sih pakek ngerekam suasana
lorong di lantai dua? Kamu tahu gak? Hasil pekerjaan isengmu itu sekarang sudah
bikin seantero sekolah ini geger!” seru Laras dengan gaya ceriwisnya yang bikin
telinga jadi tuli seketika.
Aku hanya cengar-cengir tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh temanku
yang satu ini. Sembari aku menyodorkan sebuah tisu kepada Laras karena
keringatnya mengucur deras, aku pun berusaha menanggapi ‘semprotan’ Laras yang
membabibuta.
“Tante, kamu tenang dulu deh. Aku gak ngerti maksudmu itu. Coba deh kamu
jelaskan pelan-pelan biar aku mengerti.” Aku berusaha menenangkan Laras yang
sedari tadi seakan-akan berusaha menelan bola mataku.
“Huhhhh...pokoknya kamu harus tanggung-jawab Jen, video isengmu yang kamu
rekam kemarin ternyata setelah dilihat secara seksama ada sesosok bayangan
putih yang mirip hantu! Aku dan teman-teman di kelas tadi sampai merinding dan
gak berani ke kamar mandi setelah tahu hal itu!” seru Laras masih dengan nafas
yang terengah-engah.
“Hmmmm....” aku hanya menggumam.
Sebaiknya kita ngobrol di kantin saja, nanti biar kujelaskan di sana.
Perutku sudah keroncongan nih Tante. Aku berusaha membujuk Laras agar mau
mengikutiku ke kantin. Dan akhirnya setelah kujanjikan segelas jus alpukat,
Laras mau kuajak ke kantin sekolah.
Setelah duduk di bangku kantin, aku segera memesan semangkuk mi ayam dan
dua gelas jus alpukat kepada Bang Bro, panggilan akrab pedagang kantin. Aku
duduk berhadapan dengan Laras seakan-akan aku akan diinterogasi oleh seorang
intelijen saja.
“Begini Laras, videoku itu bukanlah sekadar video iseng saja asal kamu
tahu ya. Dua hari yang lalu, ketika aku melintas di depan sekolah sekitar pukul
tujuh sore aku melihat lampu di kelas VII B menyala kemudian mati lagi, menyala
kemudian mati lagi. Persis seperti lampu disko. Dan ketika akan mati yang
terakhir kali, aku melihat sesosok wanita yang mukanya tertutup rambut berdiri
dekat jendela. Aku menjadi penasaran setelah itu dan aku ingin mencari bukti
nyata di balik peristiwa yang aku lihat itu” aku berusaha menjelaskan kepada
Laras yang dari tadi tak melepas sedotan jus dari mulutnya itu.
“Sinting kamu Jen, benar-benar sinting! Kenapa sih kamu kurang kerjaan
amat. Emang aku akui kamu anak perempuan yang gak takut apa pun, tapi jangan
dong buat murid-murid yang lain takut, termasuk aku!” Laras ngomong sampai
mulutnya monyong-monyong.
“Ahhh...tentunya aku ga mau disalahkan kalau begini jadinya. Sapa suruh
kamu minta videonya itu dan kamu simpan di hpmu. Aku kan buat video itu buat
koleksiku sendiri. Lagian jika itu memang beneran hantu, kamu ga perlu takut
deh, yang penting hantu itu gak mengganggu kamu dan teman-teman yang lainnya
kan.”
“Pokoknya aku gak mau tahu Jen, kamu harus segera menghadap kepala
sekolah, sebelum hal ini berlarut-larut dan bisa menjadi petaka bagi kamu Jen”
Laras tampak memelas dan suaranya tak lagi senyaring yang tadi.
Setelah kuhabiskan semangkuk mi dan jus alpukat, aku berpikir sejenak.
Hmmm...ada benarnya sih apa yang dikatakan oleh Laras. Lebih baik aku segera
melaporkan hal ini kepada kepala sekolah daripada aku jadi bulan-bulanan
nantinya. Setelah kubayar semua makanan dan minuman yang ku pesan tadi kepada
Bang Bro, aku pun berlari kecil menuju ruang kepala sekolah yang letaknya tak
jauh dari kantin sekolah.
“Ahhh...lain kali aku ga akan deh ceroboh lagi mau berbagi video kepada
teman-temanku. Untung cuma baru satu video saja yang dilihat, padahal masih
banyak lagi video-video aneh lainnya di hpku. Yahhh...aku ambil hikmahnya
sajalah. Semoga kejadian kali ini menjadi kejadian yang pertama dan sekaligus
yang terkahir kalinya. Jenny...Jenny...begitu cerobohnya dirimu ini!” gerutuku
dalam hati.
Kembali aku menghadap pak kepala
sekolah yang terkenal sedikit galak. Yah, aku memang sudah kedua kalinya
melapor tentang kejadian ini. Sebelumnya aku memang pernah membuat video aneh.
Aku sempat diskor karena perbuatanku. Hehe...
Pak kepala sekolah kembali marah
padaku. Tapi, dia tidak menghukumku karena aku memang sering membuat ulah. Aku
merasa lega sekali. Laras menghampiriku.
“ Gimana? Enak dimarahin?” tanya
Laras.
“ Enak. Kenapa?” jawabku melawan.
Sekonyong-konyong kutinggalkan saja
Laras yang tampak kesal dengan jawaban singkatku tadi. Ku tendang kaleng
minuman yang ada di dekatku. Plakkkkk...krontang...suaranya terdengar gaduh,
segaduh suasana hatiku sekarang ini. Fiuhhhhh....mimpi apa ya aku semalam,
sampai-sampai ketiban sial seperti sekarang.
Tak mau ketinggalan bus, aku pun
segera berlari ke kelas mengambil tasku yang ketinggalan di sana. Kelasku ada
di lantai tiga, jadi untuk sampai di sana aku harus melewati beberapa anak
tangga dan lorong-lorong yang suasananya agak seram. Sesampainya di lantai dua,
langkahku terhenti. Mataku tertuju pada pojokan kelas VIIB yang gelap karena
sudah sejak lama lampu penerangan di sana mati. Aku melihat ada sesuatu yang
bergerak-gerak. Tak mau ketinggalan momen yang berharga, seperti biasa aku
mengambil handphone bututku. Kuaktifkan kameranya dan bersiap-siap membidik
momen demi momen yang tak akan ku lewatkan sedikitpun. Rupanya, peringatan
kepala sekolah hanya melintas sebentar di otakku kemudian menguap begitu saja.
Tekadku untuk mengabadikan sejumlah aktivitas para hantu iseng lebih kuat
daripada ancaman hukuman yang menanti.
Klik.....kamera handphoneku sudah
aktif, lengkap dengan lampu flash yang terang sehingga pojokan kelas VIIB yang
tadinya gekap gulita, sontak terang benderang. Miaooooooooo............ Tiba-tiba
seekor kucing putih besar meloncat dan mendarat tepat di wajahku. Kuku-kukunya
yang tajam, seketika itu juga menancap di kedua pipiku yang tembem.
“Wadooooowwwwwwwwww..........kucing
sialan” teriakku sambil berusaha melepaskan cengkeraman kucing itu dari
wajahku. Handphone yang kupegang sudah jatuh entah ke mana. Darah mengalir
deras di pipiku. Mungkin ini peringatan yang paling menyakitkan untuk
menghentikan keisenganku selama ini. Huhhhhhh............
Mendengar
teriakanku yang cukup keras. Satpam sekolah segera menghampiriku. Melihat
mukaku yang terkoyak-koyak dan berdarah, tanpa bertanya-tanya, satpam tersebut
segera memapahku ke ruang UKS yang kebetulan masih ada perawat sekolah yang
berjaga di sana. Setelah mendapat beberapa jahitan, aku pun dirujuk ke rumah
sakit terdekat untuk mendapatkan suntikan antitetanus.
“Haduhhhhhh...Jenny-Jenny,
kamu kenapa nak?” terdengar suara mamaku dari kejauhan memanggil namaku.
Aku yang terkulai tak berdaya di
ICU, berusaha menoleh ke arah suara tadi. Ku lihat mamaku datang tergopoh-gopoh
menghampiri. Ketika dilihat wajahku yang penuh jahitan, mamaku langsung
lunglai, lemas dan harus mendapat perawatan di ICU yang sama.
Semenjak saat itu aku pun sadar
bahwa tindakan iseng bisa mendatangkan akibat buruk bagi diriku sendiri dan
orang lain. Aku bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan isengku lagi.
Hantu-hantu itu sekarang bisa terbebas
dari bidikan-bidikan kameraku selama ini. Bye...bye...

5 komentar:
bagus pak wisnu
Terimakasih Darma. Kamu gak mau nyumbang tulisan?
wiih, pak Wisnu ceritanya bikin deg-degan aja. buatan bapak itu?
Iya Jod, buatan Pak Guru. Kamu mau nambahin cerita di blog pak guru gak?
Iya Jod, buatan Pak Guru. Kamu mau nambahin cerita di blog pak guru gak?
Posting Komentar